Sudah lama saya memperhatikan seorang karyawan. Kehadirannya di tengah teman-teman kerjanya selalu diawali dengan senyuman dan sapaan yang membawa suasana gembira.
Ketika mulai berdialog, maka terpancarlah aura optimis dan percaya diri dari rangkaian kata-katanya. Tersembur keyakinan untuk meraih segala yang diharapkan. Tersemburat, semangat untuk mencapai setiap yang diinginkan
Terakhir, saya mendapat kabar bahwa ia telah berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat diidam-idamkannya selama ini. Subhanallah, tentu saja saya mengucap syukur dan menccba menelusuri bagaimana ia mendapatkan keberhasilan itu.
Terbayang oleh saya ketika dia dengan penuh semangat dan percaya diri selalu menyampaikan cita-citanya itu di hadapan siapa saja dan diberbagai kesempatan. Ini menunjukkan sikap posifif dan optimis yang dimilikinya. la tidak merasa kecewa atas keterbatasan dirinya dan tidak merasa takut akan masa depannya.
Terbayang pula bagaimana dia berkonsultusi kesana kemari untuk merumuskan langkah-langkah mencapai apa yang diinginkan. Terbayang pula berbagai upaya melakukan perbaikan diri dan potensi yang dia lakukan untuk menyempurnakan ikhtiarnya. Ini menunjukkan semangat peningkatan kemampuan dan keilmuan untuk mencapainya.
Semuanya dijalankan dengan penuh semangat, berani, penuh pengorbanan dan dengan koyakinan yang kokoh. Segenap ikhtiar yang ia lakukan sedemikian paripurna itu akan bertemu dengan pertolongan Allah sebagai penjamin terjadinya kesuksesan.
Hijrah mengajarkan kesuksesan
Para sahabat Rasulullah sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai patokan permulaan kalender kaum muslimin. “Ta’rikh (kalender) itu dimulai sejak Nabi, meninggalkan tempat musyrikin (orang-orang yang “gagal’ beriman kepada Allah) menuju tempat muslimin (orang-orang yang “berhasil” menemukan keimanan yang sempurna)” “Hijrah adalah pemisah antara hak dan batil,” tegas Khalifah Umar dalam dekrit penetapan tahun hijriah. Jika boleh kita tadabburi perkataan Umar tersebut maka etos mengatakan bahwa “hijrah adalah pemisah antara orang-orang gagal dengan orang-orang sukses”.
Hijrah tidak hanya imigrasi dari Makkah ke Madinah. Tetapi hijrah adalah titik balik kesuksesan Rasululah dalam segala hal. Kehidupan di Makkah memang penuh dengan terror. Tapi hijrah bukanlah lari dari masalah dan akhir dakwah di Makkah. Ketika di Makkah, memang Rasulullah masih mengalami kegagalan-kegagalan dalam dakwahnya, kegagalan demi kegagalan itu membekaskan pelajaran berharga bagi efektifitas dakwah Rasulullah dikemudian hari.
Periode Madinah menunjukkan kepada kita bagaimana segala idealisme dakwah mewujud dalam keberhasilan. Berbagai kejayaan, kemenangan dan kesuksesan diraih oleh kaum muslimin, Semuanya bermula dari hijrah.
Hijrah tidak bisa kita fahami sebagai satu momentum yang berdiri sendiri. Karena hijrah adalah puncak dari segenap sepak terjang, perjuangan dan pengorbanan dalam dakwah Rasulullah. Beliau dengan teliti dan cermat merencanakan langkah-langkah yang akan diambil sebagai persiapan membukukan kesuksesan dakwahnya.
Bahkan menurut Ali Jabir, sejak pertama diangkat sebagai Nabi, Rasulullah telah melakukan usaha pencarian basis geografis (qa’idah ardliyah) untuk bumi tempat tegaknya kekuatan dan mencari jumlah pendukung yang memadai. Kesiapan itu dibutuhkan untuk nemulai konfrontasi, suatu hal yang tidak pernah di lakukan di Makkah.
Rasulullah pernah memerintahkan para sahabat hijrah ke Habasyah sampai dua tahap. Beliau sendiri pernah ke Thaif yang justru diremehkan dan dianggap lebih menyakitkan dibandingkan tragedi Uhud.
Pada kesempatan lain juga beliau mengamati kabilah-kabilah baik segi kualitas, kuantitas dan hubungannya dengan pihak-pihak lain. Diantaranya kabilah Bakr bin Wail.
Terus beliau melakukan pencarian, pengamatan dan evaluasi dengan seksama sampai Beliau mendapatkan kontak dengan beberapa orang suku Khazraj. Dalam kontak itu kedua belah pihak menemukan simbiosis mutualisma. Masing-masing diuntungkan dan melahirkan kekuatan yang kemudian menjadi sangat luar biasa.
Dari situ mulailah disusun rencana pengkonsentrasian segenap potensi ke Madinah. Perpindahan mulai dilakukan dengan sistematis dan menurut pola yang teratur. Semuanya dilakukan dengan pertimbangan dan strategi yang canggih serta sangat teliti dan hati-hati.
Al Buthy menyampaikan riwayat sahih dari Al Bukhari, yang menyebutkan bahwa ketika setelah banyak kaum muslimin yang hijrah ke Madinah, Abu Bakar meminta izin untuk melakukan hal yang sama. Tapi Rasulullah menahan dan menunggu saat yang tepat dan izin dari Allah. Padahal keduanya sudah sangat ingin untuk segera berada di Madinah. Kemudian Abu Bakar menangguhkannya dan membeli dua ekor unta yang akan dipeliharanya sebagai persiapan keberangkatan.
Dari momentum hijrah ke depan, maka akan terlihat efektifitas gerak dakwah kaum muslimin saat itu diwarnai dengan berbagai keberhasilan dan kegemilangan. Semuanya terjadi dengan luar biasa, melesat menembus berbagai hal yang semula berat untuk diperoleh. Dimana mereka mampu mendirikan imperium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia yang membentang dari perbatasan India hingga Samudera Atlantik.
Madinah telah menjadi saksi tempat munculnya kekuatan Arab yang kecil namun mampu membalikkan dominasi manusia. Mereka menaklukan Mesopotamia, Siria, Palestina dan merebut Mesir dari kekaisaran Byzantine pada tahun 642 M. Persia direbut pada tahun 637 M. Kemudian melesak ke Afrika Utara, samudera atlantik hingga ke Visigotic Spanyol.
Semua penaklukan itu selalu diikuti dengan masuknya Islamnya orang-orang secara berbondong-bondong dan sukarela. Hebatnya, dakwah itu dilakukan oleh balatentara itu sendiri. Tidak oleh misi yang lain atau lembaga dakwah yang berbeda. Mereka langsung berinteraksi dan memberi contoh.
Kita bisa mengumpulkan sejumlah ikhtiar yang sedemikian cerdas yang dilakukan Rasulullah dalam rangkaian hijrahnya. Berbagai kegiatan untuk mempelajari dan memahami masalah, mengatur strategi dan menyusun perencanaan, melakukan persiapan dan pengkondisian.
Segala potensi ikhtiar tersebut tentu saja efektif memberikan dampak keberhasilan. Bahkan sedemikian canggih ikhtiar yang dilakukan Rasulullah sampai Allah SWT mengapresiasinya dengan memberikan pertolongan yang tidak diduga. Sehingga bertemulah ikhtiar manusiawi yang memenuhi segenap persyaratan untuk berhasil dengan pertolongan Allah yang menjamin keberhasilan itu menjadi kenyataan.
Pekerja muslim menuju kesuksesan
Pekerja muslim hari ini berada dalam realitas yang menyedihkan. Gerak tanpa tujuan, miskin kemampuan, terbatasnya wawasan, lemah motivasi, produktifitas rendah, tidak bersatu, hidup dalam semangat beragama yang rendah, dll. Sehingga ia menjadi sangat lemah, terpinggirkan, tidak punya pilihan, tidak punya daya saing, dan tidak punya posisi tawar.
Namun demikian, umat Islam sebagian besar masih tetap hanya berada dalam bayang-bayang kejayaan Islam dahulu. Mereka masih terbuai dan terlena dengan kehebatan sistem Islam dan berhenti pada pemahaman bahwa Islam adalah solusi. Sementara pada tataran realitas, permasalahan sudah sedemikian rumit dan mendesak untuk diselesaikan. Keyakinan bahwa Islam adalah solusi yang telah terbukti di masa lalu, namun menuntut bukti dari para penganutnya. Seperti apa bentuk solusi itu.
Disinilah semangat hijrah memberikan referensi kepada kita. Keyakinan bahwa Islam adalah solusi yang sudah sedemikian kita yakini itu, semangat hijrah memberi spirit untuk direalisasikan di pelosok-pelosok masalah yang ada seat ini. Umat Islam dengan berbekal keyakinan itu harus mulai bergulat, bergumul, dan berkubang lumpur masalah untuk hadir menjadi lokomotif solusi.
Dikalangan pekerja muslim sendiri, sudah bertumpuk dan tumpang tindih berbagai masalah. Masalah pembahasan kesejahteraan pekerja sering berkutat di wilayah-wilayah yang tidak prinsip dan berakhir di pojok-pojok konflik yang merugikan, apatis dan keputus-asaan.
Permasalahan kurangnya lapangan pekerjaan tercampur aduk dengan kapabilitas dan skill yang tidak memadai. Diperparah dengan produktifitas yang lemah dan membuat perusahaan tidak bisa bersaing sehingga lumbung-lumbung pekerjaan sulit tumbuh. Belum dengan suasana yang kerap tidak kondusif bagi muncul dan tumbuhnya perusahaan-perusahaan penampung pekerja.
Maka diperlukan jiwa-jiwa hijrah yang teguh menyusun peta keberhasilan, yang pantang menyerah dan terus melangkah, yang berpikir menyeluruh dan memberikan solusi yang tidak membawa efek samping. Segeralah hadir pekerja-pekerja muslim yang raganya bergerak membawa semangat-semangat keberhasilan. Kita bisa memulainya dari sekarang.
“Melaksanakan ibadah pada saat kacau seperti hijrah kepadaku” (HR. Muslim).
Ditengah hiruk pikuk kebobrokkan dan berseliwerannya silang pendapat, saatnya hadir pekerja-pekerja muslim yang hatinya tunduk kepada Allah untuk memperbaiki keadaan dengan tindakan yang seefektif yang Rasul ajarkan dari momentum hijrah. Tentu saja ketundukkan hatinya kepada Allah yang membingkai motivasi setiap tindakan perbaikan yang dilakukannya sebagai ibadah. Kesungguhannya dalam bekerja bukan hanya untuk upah, karier, atau lainnya. Tapi sebagai bentuk ibadah.
Rangkaian keberhasilan
Untuk menjadikan diri kita pekerja-pekerja muslim yang unggul yang siap beribadah kepada Allah dengan memperjuangkan perbaikan kondisi umat Islam, ada bekal dari Rasulullah yang bisa kita jadikan pegangan. Sebuah do’a yang Rasulullah ajarkan untuk di baca setiap pagi dan petang,
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekecewaan dan kegelisahan, dan dari kelemahan dan kemalasan, dan dari sifat pengecut dan kikir, dan dari lilitan hutang dan dominasi manusia.”
Do’a ini merumuskan rangkaian proses menuju keberhasilan yang akan diraih. Keberhasilan itu sendiri Rasulullah sampaikan berupa terlepas dari dominasi manusia atau kemandirian dan terbebas dari lilitan hutang atau penguasaan ekonomi. Inilah potret buram umat Islam saat ini. Berada dalam kungkungan dan pengaturan manusia lain serta tidak mempunyai keleluasaan dalam ekonomi.
Ketika umat ini mampu membebaskan diri dari dominasi manusia lain, maka ia akan bebas mengekspresikan aqidahnya dan segenap ibadahnya. Dan ketika umat ini mempunyai kebebasan secara ekonomi make ia bisa mengatur alam semesta ini atas dasar perintah Tuhannya. Inilah yang dicapai oleh generasi pertama dan utama dari kegemilangan Islam.
Ternyata hal itu bermula dari suasana hati, yakni adanya kekecewaan akan masa lalu dan kegelisahan menghadapi masa depan. Suasana hati seperti itu membuahkan kondisi seorang individu. Dimana ia menjadi seorang yang memiliki sedikit kemampuan dan tidak memiliki keinginan berbuat sesuatu.
Terbatasnya kemampuan dan miskinnya kemauan menjadikan karakter individu yang penakut dan tidak mau berkorban. Hal tersebut menjadikannya individu yang tergantung kepada pihak lain. Sehingga urusan menjaga kelangsungan hidupnyapun, antara lain mencari nafkah, tergantung dari penguasaan ekonomi pihak lain. Dan kita harus terbebas dari itu semua sebagai bentuk keberhasilan mencapai dunia yang hasanah.
Lapang dada dan visi masa depan
Kekecewaan terhadap masa lalu harus sirna dalam hati kita. Seringkali bayangan-bayangan kegagalan di masa lalu menganggu keyakinan kita akan sesuatu. Lupakan saja masa lalu itu. Tidak ada penciptaan Allah yang salah dan tanpa arti. Tinggal kita mampu mengambil pelajaran sebanyak mungkin dari kegagalan dan kelemhan yang ada.
Demikian pula ketika kita memikirkan masa depan. Semua makhluk akan sepakat bahwa itu gelap. Maka yang lebih baik kita lakukan adalah merencanakan masa depan dan memperjuangkannya hingga terwujud. Pupuk dengan sikap percaya akan rencana Allah yang pasti akan berbuah kebaikan.
Episode ‘isra mi’raj yang dialami Rasulullah seakan memberikan ilustrasi pada keadaan ini. Ketika Rasulullah bersedih atas segenap kegagalan yang bertubi-tubi. Ditambah dengan ditinggalkannya oleh orang tercinta yang melindunginya. Isra mi’raj seakan menunjukkan kepada Rasulullah agar tidak perlu bersedih karena beliau diperlihatkan masa depan atau akhir kehidupan manusia yang harus diperjuangkan. Visi atau pandangan jauh kedepan inilah yang membalikkan kekecewaan dan kegelisahan Rasulullah untuk kembali bangkit dan berjuang.
Pekerja muslim yang cerdas, berdaya dan handal. Berlapang dada terhadap segala hal yang mengecewakan adalah awal perbaikan hidup kita. Walau sejuta masalah menggunung disekitar kita, dilingkungan kerja, ditengah masyarakat, dan dimana saja. Hendaknya itu tidak membuat kecewa dan mempengaruhi sikap optimis kita. Pancangkan cita-cita kita yang tinggi setahun kedepan, sepuluh tahun ke depan, dan sejauh mungkin masa depan yang mungkin ada, yakni kehidupan terjauh di alam baqa.
Ilmu dan semangat berbuat
Hati yang positif dan optimis akan melahirkan semangat untuk berbuat dan meningkatkan kemampuan. Harapan dan cita-cita yang membara seakan menjadi bahan bakar yang menggerakkan seluruh persendian. Kita akan menjadi individu yang haus ilmu demi perbaikan diri.
Kedalaman ilmu akan mempercepat proses adaptasi dan penguasaan pekerjaan yang dilaksanakan. Hal itu menghasilkan kemampuan memandang masalah secara lengkap dari berbagai sudut pandang. Sehingga ketika bertindak dan berbuat akan melahirkan sikap yang benar dan mendorong kemajuan.
Ketika seseorang menguasai ilmu menangani pekerjaan yang lebih banyak maka ia akan lebih siap meramu, merencanakan, dan mencapai keberhasilan. Karena Allah mengajarkan Kegemilangan Islam pun dicapai dengan ditopang oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan yang sedemikian luas.
Episode Ramadhan merupakan masa yang tepat untuk melipatgandakan kemampuan dan ilmu kita. Disana kita diuji semangat juang dan efektifitas tindakan kita. Dimana kita diuji apakah masih mengidap penyakit minim kemampuan dan penyakit miskin keinginan. Ramadhan menunjukkan kepada kita tentang tradisi ilmiah dan semangat berbuat dengan efektif.
Keberanian dan semangat berkoban
Kemampuan yang baik dan banyak akan memberikan keberanian dalam bertindak dan mengambil resiko. Apapun masalah di hadapan hanyalah sebuah tantangan yang harus dijawab guna menafkahkan kemampun yang telah dimilikinya.
Bahkan kemudian ia berani berkorban untuk membuka wilayah-wilayah wawasan baru yang belum diketahuinya. Kalau saat ini baru bisa menjahit, maka ia selalu tertantang untuk menguasai perawatan dan perbaikan mesin, atau menguasai pengaturan line, dst. Maka bila untuk mendapatkan kemampuan itu diperlukan pengorbanan dengan meluangkan waktu, atau dengan diomelin dan dikritik banyak orang, atau dengan pengorbanan harta bila perlu, maka akan ia lakukan. Karena ketika telah terbuka pintu masuk ke wilayah baru tersebut ia akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Yakni kemampuan atau bahkan kepercayaan, karier dan kemungkinan peningkatan penghasilan.
Episode ‘iedul qurban merupakan fenomena yang dapat memberikan penjelasan tentang dahsyatnya dampak dari pengorbanan. Dimana dengan berkorban maka keberanian kita terhadap semua makhluk (selain khaliq) menjadi tertunaikan. Seperti Ibrahim yang rela dibakar karena keberanian dan kesigapan dalam berkorban untuk suatu keyakinan kepada Allah. Dan bukankah bisnis yang lebih menguntungkan biasanya resikonya juga lebih besar?
Keberhasilan
Keberanian dan semangat berkorban inilah yang membawa kita kepada kunci-kunci keberhasilan. Sebagaimana kemudian episode hijrah memberikan pelajaran terakhirnya kepada kita. Setelah isra mi’raj yang mendorong kita untuk memiliki visi atau cita-cita yang jauh kemasa depan. Kemudian episode ramadhan yang menguji dan meningkatkan terus ilmu dan efektifitas kerja kita. Dilanjutkan dengan episode ‘idul qurban yang memberi semangat melakukan hal-hal baru yang beresiko namun menjanjikan masa depan.
Hijrah mengubah kondisi umat Islam yang semula didominasi kaum kafir menjadi kaum yang bebas dan bahkan mempunyai keunggulan ekonomi yang mampu mengalahkan dominasi kafir Quraiys.
Momentum hijrah Rasulullah seperti menunjukkan kepada kita semua bahwa umat Rasulullah terlahir untuk meraih sukses dan hanya sukses. la akan meraih sukses atau kalau tidak ia akan meraih kesuksesan yang luar biasa. la bisa menjadijuara satu. Tapi bila ia tidak menjadi juara satu maka ia akan menjadi juara umum. Bila ternyata ia pun tidak menjadi juara umum, maka ia lah yang mengadakan lomba itu dan menjadi jurinya.
Umat Rasulullah adalah hamba Allah yang merindukan prestasi-prestasi dan keunggulan. Apakah ia bisa bekerja dengan target yang selalu lebih baik, dengan kualitas yang selalu meningkat, dengan pengiriman yang lebih tepat, dengan biaya yang semakin hemat. Atau prestasi-prestasi lain yang mungkin, misalnya berpuisi, berpidato, bernasyid, memasak, berorganisasi, berinfaq, berolah raga dan banyak lagi.
Umat Rasulullah berbeda dengan umat lainnya. la bercita-cita besar, berpikiran maju, berbuat banyak untuk kemajuan dan kesejahteraan. Setiap langkah yang tercipta merupakan tapak-tapak kemenangan. Apabila ia gagal, maka ia hanya memerlukan kesadaran untuk untuk menemukan hai-hal yang belum ia ketahui dan menambah pengetahuan dan kemampuan.
Semua semangat membara dalam meraih prestasi-prestasi di dunia itu menjadi sarana latihan bagi kita. Latihan yang sangat diperlukan untuk masa depan kita. Sehingga dengan latihan itu, kita dapat memupuk semangat yang jauh lebih menyala-nyala dan berkobar dalam mencapai prestasi tertinggi, yakni mencapai syurga Allah SWT. Syurga adalah puncak kesuksesan kita. AlIahu Akbar!!!