Menghadapi suatu masalah, anda bisa memunculkan kerja keras dan bersulit-sulit atau anda pun bisa memunculkan setumpuk alasan yang seolah-olah membolehkan kita gagal. Ketika anda memilih mengumpulkan alasan, kegagalan yang akan datang merupakan kesulitan dalam bentuk lain yang pasti akan anda hadapi.
Bahkan, sangat mungkin kesulitan itu akan lebih berat dan lebih berbahaya. Maka sejuta alasan yang coba kita tumpahkan itu, kelak tidak akan berarti apa-apa lagi. Rasanya secanggih apa pun alasan itu tidak mampu mengurangi berat dan bahayanya masalah yang muncul selanjutnya.
Tapi ketika anda memilih untuk melalui jalan yang sulit dan berat untuk bersusah payah menyelesaikan masalah, maka anda mulai meniti tangga keberhasilan. Walaupun salah satu anak tangganya adalah kegagalan. Dan ketika keberhasilan itu kemudian muncul, maka kesulitan seberat apapun tidak berarti apa-apa. Bayangkan, ketika untuk mencapai suatu target produksi anda harus memutar otak, menambah jam kerja, bekerja ekstra, dsb. Kemudian anda berhasil dan bisa memenuhi waktu yang tepat untuk peluncuran produk baru dan mencapai prestasi penjualan.
Kesulitan yang semula dirasakan dengan berat seolah-olah hilang begitu saja. Bahkan menjadi bumbu untuk menggenapkan tanda kebanggaan atas prestasi kita. Mari kita renungkan, apa rasa sebuah kesulitan dan sebentuk alasan atas reaksi kita terhadap suatu masalah. Semuanya ternyata semu saja. Ketika realita kembali hadir beberapa waktu ke depan, maka keduanya menjadi tidak punya arti apa-apa.
Dimana ada kemauan disitu ada jalan, dimana ada kemalasan disitu ada alasan. Pilihan ada pada anda sendiri dan hasilnya sudah siap menanti.