Aturan Allah adalah sesuatu yang sangat tinggi, Mulia dan Agung. Untuk mendapatkan pemahamannya diperlukan usaha yang tidak sederhana dan tidak ringan. Apalagi untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Sehingga proses pemahaman ini merupakan perjuangan dakwah tersendiri yang mesti mendapat porsi.

Ada tiga aspek yang telah Rasulullah tunjukkan kepada kita yakni aspek nilai-nilai, aspek  keilmuan dan aspek aplikasi. Pada tatanan nilai-nilai Rasulullah adalah manusia pilihan Allah yang telah menyampaikan nilai-nilai absolute ban sakral yang memberi makna pada setiap bidang kehidupan. Nilai, norma dan hukum sebagai petunjuk ekonomi yang beilau sampaikan bersifat universal. Nilai-nilai teknis kemudian dikembangkan disetiap zamannya.

Pada tataran ilmiah beliau mencontohkan tentang wawasan yang aplikatif. Prinsipnya ilmu untuk amal. Bekalan ilmiah teknis beliau mendapatkan dari kontak sosiai dan pengalaman. Untuk itu beliau mendorong umatnya untuk belajar mesti sampai ke negeri Cina. Beliau belajar berdagang dari pamannya juga kepada saudagar Khadijah, bahkan kepada pembantunya Maisaroh. Dalam bertani beliau belajar dari orang Madinah, perihal perkawinan kurma yang berhasil.

Pada tataran aplikasi, kecemratan beliau telah membawa keberhasilan. Dalam kemitraan dagang dengan Khadijah beliau berhasil menjadi pedagang komoditas ekspor ke Syiria. Dengan keberhasilan itu beliau mendapatkan prosentase keuntungan lebih besar

Aspek nilai-nilai dan keilmuan. ditengah-tengah kita sudah banyak tumbuh sekolah-sekolah yang terus menggali dan menelaah. Dengannya lahir ribuan ahli dengan keragamannya. Baik dan sisi nilai-nilai dari sekolah-sekolah berbasis diniyah atau ekonomi Islam. Ataupun dari sekolah-sekolah berbasis kompetensi teknik dan operasional.          

Namun ditataran aplikasi masih minim dilakukan kegiatan-kegiatan yang membuat ekonomi Islam semakin dirasakan sebagai solusi. Bagaimana kenyataan pahit ditampakkan kepada kita, umat Islam belum bisa melahirkan solusi ditengah himpitan kesulitan ekonomi yang ada. Bahkan tidak sedikit mereka malah menjadi bagian dari masalah yang ada.

Sekali lagi, ini harus memberi perhatian kepada kita, bahwa keyakinan kita bahwa Islam adalah solusi (rahmatan lil’alamin), tidak boleh hanya sekedar kalimat retorika dakwah (atau sama dengan tabligh) saja. Tapi harus terlahir sebagai amal sholih.

Berbentuk perjuangan untuk melaksanakan kata-kata itu. Yang sedemikian beratnya sehingga kita bertradapan dengan berbagai masalah dan hambatan. Yang sedemikian beratnya sehingga kita terus berharap kepada Allah agar ditunjukkan jalan keluar. Yang sedemikian beratnya sehingga kita menjadi paham dengan sunatullah keberhasilan. Dengan itulah kita mengatakan bahwa kita adalah orang yang berserah diri.

Rasulullah sangat menjunjung tinggi kesejahteraan ekonomi rakyat. Beliau bangga melihat umatnya berkecukupan ditengah pembangunan. Mereka diperintahkan untuk berkontribusi bagi pembangunan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Kepada yang belum berkecukupan diperintahkan untuk tidak henti-hentinya terus berusaha (sabar). Kepada yang berkecukupan beliau senantiasa memerintahkan untuk memberikan kontribusi. Hanya itu saja dua pelaku ekonomi yang diakui Rasulullah, yakni kalangan berkecukupan yang kontributif (alghaniyyul syakir) dan orang yang berkekurangan yang rajin berusaha (alfakirul shabir). Bila tidak masuk dua tipe ini, maka ia adalah beban atau bahkan perusak ekonomi.

 

Seorang leader suatu line produksi pernah berbicara dengan saya seputar keberhasilan line-nya. Line produksi yang dia pimpin memang sering berprestasi. Mulai dari targetnya, ketepatan jadwalnya, dsb.

Menurut pengakuannya, ia memberikan waktu iebih banyak dan memikirkan lebih keras dalam mempersiapkan dan menyelesaikan permasalahan di line-nya. Misalnya, ketika mendapat proses baru, maka ia pelajari betul sampel produknya. Sampai diluar jam kerja atau di bawa ke rumah.

Bukankah itu menganggu? Pulang kerja, sudah cape, masih mikirin kerjaan juga?

“Iya sih, kalau mau mikirin capenya aza mah”. Jawabnya. ” Tapi, besok-besok ketika saya mulai kerja ngurusin line, saya sudah faham betul dengan apa yang mesti saya kerjakan”. Panjang lebar ia cerita, bagaimana ia jadi tahu urutan prosesnya yang aman dan tidak mengakibatkan masalah. la juga jadi tahu berapa waktu yang diperlukan untuk masing­masing proses. Dengan itu ia juga jadi tahu bagaimana caranya mengejar target produksi yang diberikan. la juga bisa pikirkan waktu membagi proses dan mengatur lay-out produksinya. “Pokoknya ketika dipikirin terus, jadi banyak hal yang tadinya ga tau jadi tau. yang tadinya ga ngerti jadi ngerti, yang tadinya sebodo amat jadi ati-ati,” begitu kira-kira keuntungan yang ia sampaikan.

Disamping mempelajari produk baru, ia juga selalu memikirkan setiap permasalahan yang muncul pada saat berjalannya produksi hingga tuntas. Mengapa target yang diberikan tidak bisa dipenuhi? Itu pertanyaan yang selalu di bawa dalam pikirannya. Bila dijam kerja tidak selesai, maka ia sempatkan untuk dipikitkan terus di luar jam kerja, dimana saja. Ketika istirahat, diperjalanan ataupun di rumah. Bahkan, menurutnya, bisa sampai kebawa-bawa mimpi.

Hasilnya, ketika kembali bekerja, ia selalu memiliki cara untuk menyelesaikan masalah, ia selalu hadir dengan kesiapan mengatur line, ia senantiasa bisa membawa anggota line-nya menghasilkan produk sesuai target.

Jadi ga berasa lagi ngelakuin ini dan itu sampai ngeganggu waktu-waktu selain jam kerja? Rasa-rasanya engaa Iha ya. Coba bayangin hasil yang bakal diraih buat peningkatan kemampuannya, kemajuan prestasinya, bertambahnya tanggung jawab yang diberikan, dsb.

 

Masa Depan yang Gelap Membutuhkan Pengorbanan

Pekerja muslim yang cerdas, berdaya dan handal, etos yakin dan anda sepakat, bahwa masa depan itu gelap. Artinya, kita ga tau apa yang bakal kejadian nanti. Kalau sekarang kita masih bisa menghasilkan uang dengan cara menjahit misalnya, apakah besok-besok pekerjaan menjahit masih bisa diharapkan?

Ya, sekali lagi, diawal kita harus sepakat kalau masa depan itu gelap, tidak kelihatan dan tidak terbayangkan. Bisa kejadian tanaman yang ban ini sudah tinggal memanen, besok sudah tersabit seperti yang belum pernah tumbuh tanaman di situ.

Mari kita bayangkan ketika kita masih bayi. Ketika itu, bila kita ingin makan, maka yang dilakukan cukup menangis. Kalau tidak datang juga tuh makanannya, tinggat menangis lebih keras, Gedean dikit, ketika kita sudah bisa makan dah ngambil sendiri, maka ketika kita ingin makan, tinggal pergi ke meja makan.

Ketika beranjak agak dewasa, ketika kita ingin makan, maka yang kita lakukan adalah pergi bekerja dan bekerja dengan tenaga dan kemampuan kita. Kalau kemampuan kita menjahit, maka kita pergi ke garment/konfeksi untuk menggunakan tenaga kita menghasil kanjahitan.

Apa yang kita dapat kita lakukan saat ini merupakan buah pengorbanan di masa lalu. Kalau di masa kecil kita tidak mau bersusah-susah belajar berdiri, memegang, serjalan berbicara, makan, pergi sekolah, belajar ini dan itu mungkin sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Tapi, saat ini kita bisa berbuat sesuatu untuk menghidupi kita karena kita dulu pernah berkorban untuk memiliki kemampuan itu. Kalau saat ini kita sudah jago menjahit, mungkin itu karena dulu kita pernah bersusah-susah belajar menjahit. Artinya kita pernah berkorban untuk bisa menjahit. Bila yang kita rasakan saat ini belum terlalu memuaskan, boleh jadi dulu kita juga berkorbannya ga hebat-hebat amat. Untuk itu, masa depan yang gelap kita persiapkan dengan pengorbanan yang sebaik-baiknya saat ini.

 

Setiap Kesulitan Ada Kemudahan

Begitulah janji Allah. Tapi kenyataannya, mungkin anda merasa, saat ini jarang sekali bertemu dengan kemudahan. Rasanya setiap detik yang berlalu hanya berganti dari kesulitan yang satu ke kesulitan yang lainnya.

Sebetulnya anda tinggal bertanya kepada diri anda sendiri, apakah ketika menghadapi kesulitan disekitar kita. kita sudah betul-betul menghadapinya dengan sigap, penuh antusias dan berusaha menyelesaikannya dengan, baik dan tuntas? Atau malah lain dan mencari cara supaya tidak terlibat atau pura-pura tidak terlibat? Atau bila kesulitan itu diseputar kita (di tempat kerja, misalnya), apakah kita peduli dsngan kesulitan itu dengan membantu memikirkan dan turut terlibat dalam penyalesaian?

Ya, rnungkin itulah penyebabnya. Kita sering takut duluan ketika disekitar kita ada kesulitan atau kita berhadapan dengan kesulitan. Apakah kesulitan itu berkaitan dengan kita, apalagi kesulitan orang lain, Sehingga, sejauh kita tidak berani menghadapi kesulitan dan menyelesaikannya dengan bertanggung jawab, maka menurut rumusannya, kita akan tetap berputar­-putar di dalam lingkaran kesulitan.

Disuatu pabrik, kepala pabriknya memberikan suatu produk baru untuk dikerjakah oleh dua line. Produk ini targetnya seribu pieces per hari. Kemudian kedua leader line-nya mempelajari sample tersebut. Setelah mempelaiari, leader yang satu menyatakan bahwa target seribu pieces per hari itu berat dan tidak mungkin. Lihat saja prosesnya banyak. Ininya sulit. ininya berat. Ininya tidak ada alat bantunya, itunya tidak ada operatornya. Segala macam masalah keluar lancar memancar. Pada intinya dia tidak sepakat dengan target tersebut.

Tapi leader yang satu justru berfikir keras memikirkan masalah-masalah tersebut. Siang malam ia fikirkan, buka lagi, lihat lagi, dikutak-katik lagi, tanya sana, tanya sini, pandingkan dengan produk yang lain, pelajari dengan sebenar-benarnya di titik apa sebetulnya yang membuat sulit, mencoba-coba berbagai teknik, mencoba memodifkasi model atau alat bantu, diskusi sama anak buahnya, dan banyak lagi yang ia lakukan. sampai-sampai ia terlambat pulang. Diperjalanan bahkan di rumah ia sempatkan terus untuk menemukan cara mencapai target tersebut.

Hasilnya, dia mampu memahami praduk tersebut dengan rapih baik. Dia mengajukan beberapa alternatif cara yang diperkirakan mampu mencapai  target yang diminta dengan kualitas prodak yang sama. Dia coba terapkan dengan teknik yang dia pilih lebih baik. Dia jalankan dengan kemampuan kontrol yang lebih jeli. Akhirnya, dia bisa mencapai target yang diharapkan. dikemudian hari ketika dua leader ini kembali mendapaf produk baru untuk dikerjakah, maka leader yang satu kegiatannya adalah mencoba mengumpulkan lagi daftar kesulitan-kesulitan yang membuat target tidak perlu dicapai. Sementara yang satu dia sudah mempuryai pola cara penyelesaian masalah dan punya pengalaman berhasil menyelesaikan masalah.

Yang satu berputar-putar dalam kesulitan. Dan biasanya orang line ini merasa tenang kalau sudah punya atasan yang kuat untuk gagal. Sedangkan yang satu ia akan keluar dari kesulitan dan mulai menemukan kemudahan sebagai buah dari pengorbanannya. Buat dia, hal ini harus berhasil. Tidak Boleh gagal. Jadi kalau memang dia tahu akan ada masalah atau kesulitan yang akan mengganggu keberhasilannya, segera pikirkan solusinya dari sekarang.

Kalau kesulitan itu tidak datang, rugi dong kita udah cape-cape mikirin. Tidak ada yang sia-sia dari setiap pengorbanan yang telah kita tunaikan. Karena hakikatnya kemampuan kita yang semakin meningkat dengah pengorbanan itu. Masa depan yang lebih mudah kita beli dengan pengorbanan bersulit-bersulit saat ini.

Biarkan kemudahan itu senantiasa datang karena kita selalu bergerak menyelesaikan satu kesulitan demi kesulitan. Kesulitan diri kita, saudara kita, keluarga kita, tetangga kita, bahkan kesulitan bangsa ini, kesulitan ummat Islam. dan semua kesulitan alam semesta ini.

Wah… beuuurat kalau begitu…

 

Pengorbanan adalah Kebutuhan Kita

Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama lbrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu” la menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang dipertintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (OS, Ash-Shaaffaat:102)

Begitulah hendaknya kesigapan kita ketika melihat kesempatan berkorban. itu perlu kita lakukan sekarang ini untuk menghadapi masa depan. Seperti halnya sejarah mencatat para Nabi, Rasul dan salafushalih. Mereka melakukan pengorbanan yang luar biasa hingga kehidupan dan akhir kehidupan mereka menjadi gemilang. Kemenangan dan kejayaan umat islam bahkan kemerdekaan tanah air kita tegak dari pengorbanan.

Pengorbanan bertemu dengan rasa tanggung jawab terhadap dakwah, keberanian dan kesabaran. Dorongannya adalah semangat berdakwah untuk membawa manusia dan kehidupan menjadi lebih baik. Hakikat dan tabiat perilaku geraknya adalah pengorbanan. Perisainya adalah keberanian jiwa menghadapi berbagai rintangan. Dan nafas panjangnya adalah kesabaran.

Inilah yang melahirkan manusia-manusia yang memiliki masa depan. Karena padanya berjuta manfaat dari selangit solusi. Apapun masalahnya buat dia selesai. Seperti yang Rasul sampaikan sebagai sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain.

Masa depan hanya dimiliki oleh mereka yang telah membelinya dengan pengorbanan Kita membutuhkan pengorbahan itu untuk masa depan kita, kita sendir Bukan orang lain.

Saat ini kehidupan manusia telah dihanyut ombak nafsu yang menghancurkan fitrahnya. Semua telah rusak oleh kerakusan manusia. Sehingga dihadapan terbentang kesempatan berkorban. Inilah saatnya kita memulai bersama. Dan iringilah semua pengorbanan dengan do’a, harapan yang bermakna; tempatkan ya Tuhanku di singgasana terindah di syurga dengan para syuhada.

 

Mobil-mobil Jepang memang tampak semakin bersaing di persaingan bisnis otomotif. Namun di tahun 90-an tampak semakin nyata bedanya Toyota dengan pembuat mobil dari Jepang lainnya. Keistimewaan itu tidak hanya kita dapatkan dari desain dan kinerja mobil yang memukau. Keistimewaannya terletak pada cara merancang dan membuat mobil dengan konsistensi pada proses dan produk yang luar biasa. Toyota bisa merancang dan membuat mobil dengan lebih cepat, dengan tingkat kehandalan lebih tinggi, tetapi dengan biaya yang kompetitif, walau harus membayar upah pekerja Jepang yang relatif tinggi.

Hal lain yang bisa membuat terkesan adalah setiap kali nampak kelemahan dan sesuatu yang rentan dalam persaingan, secara menakjubkan Toyota berhasil menyelesaikan masalah dan bahkan bangkit kembali dengan kemampuan yang lebih kuat lagi.

Keberanian tarung yang dimiliki Toyota saat ini sudah tak bisa dipungkiri lagi. Sudah terwujud secara alami. Siapapun kemudian bisa menerima dan sulit menolak. Demikianlah kemampuan tarung yang sebenarnya. Kemampuan bertarung dari kekuatan yang dibangun dan dimilikinya.

Banyak yang sudah dibangun Toyota untuk terus melakukan perbaikan. Tentu saja segenap yang dilakukan itu bukanlah kegiatan-kegiatan yang mudah dan ringan. Juga bukan kegiatan-kegiatan yang asal ada yang bisa diterima kegagalannya dengan sepotong alasan. Atau kegiatan yang sekedar menggugurkan job-desc.

Tapi sebuah kegiatan sepenuh hati yang dilakukan tiada henti. Dikerjakan dengan keinginan tulus untuk memberikan yang terbaik dengan kebaikan yang sesempuma mungkin.

“Kami memberi nilai tertinggi pada implementasi dan tindakan nyata” demikian Fujio Cho, Presiden Toyota Motor Corporation. Kita sebaiknya hadapi dan pelajari betul masalah kita sendiri. Maka kita akan melihat kesalahan kita sendiri. Kemudian kita memperbaiki kesalahan itu. Kemudian kita melakukan lagi dan menemukan kesalahan yang lain atau ada hal lain yang tidak kita perkirakan sebelumnya. Kemudian terus kita lakukan lagi dan lagi

Jadi dengan perbaikan yang konstan dan dilakukan terhadap apa yang kita lakukan, maka kita dapat meningkatkan kemampuan diri kita. Lakukan perbaikan atas tindakan yang kita lakukan. Dengan melakukan hal itu, maka selangkah demi selangkah akan semakin meningkatkan kemampuan yang kita miliki hingga mencapai tingkat pengetahuan dan aplikatif yang tinggi. Kita atau perusahaan kita akan hadir dengan kemampuan tarung yang sulit tertandingi bahkan sulit dipelajari dan ditiru.

Memang kita bisa menyimpulkan bahwa mereka melakukan hal-hal sebagai berikut: menghilangkan pemborosan waktu dan sumber daya, membangun kualitas ke dalam sistem tempat kerja, menemukan alternatif yang murah tetapi handal untuk mengganti teknologi baru yang mahal, menyempurnakan proses bisnis, dan membangun budaya belajar untuk peningkatan berkesinambungan.

Itu semua bisa dipelajari dan menjadi ilmu. Tetapi sebentuk kerja keras, pengorbanan, fokup perhatian dan kesungguhan dalam menjalankannya, semua itu bukan pengetahuan yang bisa dipelajari. Tapi itu adalah hasil karya nyata yang bisa dimengerti bila kita telah melakukannya. Dan akan nyambung bila kita juga adalah pelaku.

Rasulullah dalam kumpulan do’a-do’a yang dicontohkan untuk dibaca setiap pagi dan petang menggandengkan dua sifat buruk yang kita harus berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kita. Yakni sifat pengecut dan tidak mau berkorban.

Artinya seorang pemberani muncul bersama dengan sifat sikap berkorban. Tidak pernah hadir keberanian tanpa ditopang pengorbanan. Mereka yang telah menginfaqkan waktu, tenaga, pikiran, dana, kesempatan dan sebagainya maka ia bisa membuka masa depan. Yang bisa membuka masa depan adalah mereka yang bisa bertarung dan menang dalam persaingan.

Saat ini Toyota hampir memimpin industri otomotif setelah beberapa tahun terus menggeser dominasi General Motor dan Ford. Namun demikian, bila dilihat secara bisnis, sejak lama Toyota lebih menguntungkan dibandingkan semua perusahaan otomotif yang ada dan yang leading sekalipun.

Ketika perusahaan mempunyai daya saing sebagai hasil pengorbanan segenap pendukung perusahaannya, maka ia akan mempunyai keberanian bertarung dalam kebaikan dengan perusahaan manapun juga. Kemampuan itu akan memuluskan jalan kepada kemenangan. Kemenangan yang sulit disangkal dan dipungkiri oleh siapapun termasuk oleh lawan-lawannya. Bagaikan kemenangan futuh Makkah. Perusahaan seperti inilah yang memberikan kesejahteraan yang hakiki kepada segenap pekerjanya.

 

Masalah memang semakin keras mendera perusahaan-perusahaan di negeri ini. Masalah itu terus bermunculan seolah-olah menampakkan semua bagian sisinya, sampai utuh terlihat keseluruhan seginya. Hikmah besar yang kita raih adalah terbuktinya perusahaan yang benar-benar memiliki kekuatan terbaik yang bisa terus bertahan. Merekalah perusahaan-perusahaan yang baik dan semakin baik memperhatikan stakeholdernya (pekerja, konsumen, pemilik modal, dll ).

Rasanya bagi perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan, tentu tidak perlu takut dengan segala keadaan yang mengkhawatirkan saat ini. Ia tinggal meneruskan semangat kebaikannya, dan akan terus tumbuh dan terus berkembang. Karena kebaikan akan selalu menemukan momentumnya disaat kapanpun juga, dikondisi sesulit apapun juga.

Dan rasanya, tidak berbeda pula dengan apa yang akan dirasakan oleh para pekerja yang dalam dirinya ada semangat tinggi menjunjung tinggi nilai­ profesionalisme (baca : Ikhlas)

Mereka yang mempunyai tujuan dalam bekerja yang lebih besar dari sekedar upah. Mereka bekerja karena mereka harus terus berbuat baik untuk sistem kehidupan yang memang harus lebih baik. Baginya upah hanyalah medium untuk melakukan hal-hal yang baik itu secara terus menerus bagi semua stakeholders.

Bila ia seorang desainer maka ia akan berfikir bahwa desain yang bagus bukan sekedar produk yang bagus dan laku. Melainkan ia adalah kewajiban moral yang harus tertunaikan kepada seluruh manusia, kepada seluruh alam semesta ini, kepada pencipta kita. Disini ada tuntutan yang terus mendorong agar terbuka rekacipta baru untuk menghasilkan produk yang lebih banyak manfaatnya.

Maka paradigma spiritual ini adalah memberi yang terbaik, tanpa perlu memikirkan hal-hal lain. Yang penting selalu memberikan yang terbaik. Setidaknya ada tiga hal pokok yang harus dilakukan, yakni 3T tinggalkan ego, tajamkan empati, dan tolong orang lain. Inilah yang menjadi paradigma berfikir seorang pekerja dengan semangat spiritual.

Pekerja dengan spiritualitas yang baik biasanya sehat dalam sikapnya, berkembang karirnya, dipercaya dalam pekerjaannya, selalu belajar untuk memperbaiki kemampuan, tidak alergi terhadap masalah, mudah bekerja sama, fokus dalam menyelesaikan pekerjaannya, dsb. Ciri-ciri mereka, antara lain memiliki keunikan sebagai individu, memiliki kedekatan dengan yang jauh lebih besardari dirinya (Tuhan), bermanfaat bagi orang lain, dan mendudukkan bekerja sebagai kontribusi bagi kemajuan manusia.

Dalam kesadaran seorang pekerja dengan spiritualitas yang baik, ketika memasuki jam kerja, jam tujuh pagi misalnya, maka ia mulai dalam kesendiriannya untuk bekerja bersungguh-sungguh. Tidak berbeda dengan saat menghambakan diri kepada Allah dalam ibadah ritual, shalat misalnya. Disana ada kekhusuan, ada totalitas dalam menyerahkan diri, ada keinginan yang kuat untuk memberikan yang terbaik dan takut melakukan kesalahan.

 

Masalah adalah Sumber Pekerjaan

Misalnya seorang tukang sapu. Kalau ia mempunyai spiritualitas yang baik, maka ia akan menyadari bahwa ia bekerja bukan hanya memindahkan sampah. Tapi sesungguhnya ia tengah membuat nyaman orang-orang yang bekerja di ruangan yang harus ia jaga kebersihannya. Jadi manfaat kenyamanan yang ia berikan kepada orang lain, bukan sekedar manfaat memindahkan benda bernama sampah.

Maka bisa kita lihat, ketidaknyamanan akibat kurang bersih, kurang rapih, kurang harum, dsb, adalah masalah. Inilah yang menjadi pekerjaan seorang tukang sapu. Bayangkan bila kotoran tidak pernah ada, debu itu tidak pernah muncul, sampah tidak pernah hadir. Maka apa yang bisa dikerjakan oleh seorang tukang sapu?

Semua pekerjaan pada prinsipnya telahir karena ada masalah. Sehingga sangat rugilah orang yang selalu takut, menjauh dan menghindar dari masalah. Karena ia akan menjauh dari sumber pekerjaan. Seorang pekerja dengan spiritualitas yang baik akan dengan sendirinya terbiasa bergelut dengan masalah. Karena ia selalu ingin memberikan manfaat buat semua pihak. Potensi manfaat itu kemudian muncul menjadi solusi bagi masalah yang ada. Itulah hakikatnya pekerjaan.

Dalam tahapan kedewasaannya akan ditemui rentang mulai dan pekerja malu. Yakni pekerja yang mulai merasa malu kalau ia berbuat salah. Kemudian meningkat kepada pekerja yang sadar hukum. la tidak melakukan sesuatu karena ada hukumannya.

Yang lebih baik dari itu adalah pekerja nilai. Mereka yang bekerja karena memahami nilai-nilai kebaikan yang harus ia berikan kepada orang lain sebagai tanggung jawabnya sebagai individu. Namun ada yang tertinggi dari itu semua, yakni pekerja tauhid. Yakni pekerja yang menyelesaikan pekerjaannya sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhannya. Dengannya ia terus berbuat yang terbaik, senantiasa menggali hal-hal yang membuat hasil kerjaannya lebih baik dan tidak pernah ada kesombongan terhadap keberhasilannya.

Perusahaan yang baik hanyalah untuk pekerja yang baik. Perusahaan yang baik adalah hasil dari kerja nyata yang efektif dari pekerja. Tentu saja pekerja yang baik. Tidak mungkin muncul perusahaan yang baik bila tidak ada pekerja yang baik. Perusahaan yang baik merupakan anugerah terindah bagi usaha keras menjadi pekerja-pekerja baik yang bekerja dengan efektif melahirkan keunggulan bersama di dalam organisasi perusahaan.Tidak usah ragu menjadi pekerja-pekerja yang baik atas dasar tauhid. Disekeliling kita berbagai perusahaan tengah berlomba memperbaiki spiritualitasnya.

 

Memang bukan berarti boleh pesimis, ketika kita membicarakan masalah yang ada di sekitar kita. Apalagi masalah dunia kerja di tanah air ini. Masalahnya rumit banget. Kalau kita terlalu berlebihan membahasnya, bisa-bisa ga balik optimis lagi. Tadinya punya niat mulia ingin memperbaiki keadaan, malah jadi orang yang tidak produktif dan terjebak ngomongin dan rebutan pepesan kosong doang. Artinya, tidak pemah sampai kepada pembahasan permasalahan inti. Dari tahun ke tahun hanya ngomongin itu ke itu aza…

Dalam kondisi buruk seperti sekarang ini, kita melihat banyak hal yang bisa menjebak kita kepada hal-hal yang merugikan. Alih-alih kita ingin sesuatu yang lebih baik, malah kita lupa meningkatkan kemampuan. Akhirnya daya saing kita semakin kedodoran. Justru inilah yang kemudian menjadi masalah yang sebenarnya berkaitan masalah besar dunia kerja Indonesia, daya saing.

Maka, Saya mengajak untuk sadar bahwa apapun bisa membuat kita salah menentukan sikap. Betul-betul, Saya mewanti-wanti, keadaan saat ini membuat kita harus berhati-hati sekali dalam menentukan sikap dan bertindak. Salah saja kita bersikap, bisa membuat penyesalan yang luar biasa di belakang hari. Supaya kita bisa tepat dalam bersikap, maka kita harus memahami permasalahan selengkap mungkin.

 

Masalah Pengangguran

Permasalahan dunia kerja akan lebih bijaksana bila dimulai dan masalah pengangguran. Tidak dari kesejahteraan para pekerja. Artinya, hal tersebut bermuara pada ketersediaan lapangan kerja. Setelah itu berkaitan dengan mempertahankan lapangan kerja yang sudah ada. Baru kemudian membuat lapangan kerja yang bisa dipertahankan tersebut mampu terus tumbuh, menjadi unggul dan mensejahterakan.

Seorang pakar bisnis dan ekonomi menilai Indonesia tengah menghadapi masalah pengangguran yang serius. Dalam 5-10 tahun terakhir penciptaan apangan kerja terus memburuk namun jumlah penduduk terus bertambah. Sementara jumlah pengangguran di negara lain konstan atau turun, Indonesia justru meningkat.

Dengan tingkat pengangguran menginjak angka di atas 10%, bisa dikatakan negara sudah dalam keadaan bahaya. Apalagi mengingat angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya berkisar 4-5%. Pertumbuhan yang memberikan lapangan kerja di negara Cina saja membutuhkan angka 7%. Menurut pengalaman setiap pertumbuhan ekonomi 1%, biasanya menampung 400 ribu tenaga kerja baru. Sedangkan jumlah pengangguran kita sudah mencapai 2 juta jiwa. Berarti diperlukan pertumbuhan sampai 5 kali lipat, atau 10%???

Angka pertumbuhan itu pun belum bisa menjamin terjadinya penyerapan tenaga kerja. Bila pemerintah salah mengelola, maka bisa jadi pertumbuhan ekonomi tinggi, namun tidak menyerap tenaga kerja. Akibat salah menentukan kebijakan industri. Antara industri padat modal yang kecil daya serapnya namun unggul. Dibandingkan dengan industri padat karya yang besar daya serapnya namun menyimpan resiko gagal untuk bersaing ketika produknya dijual.

Pengangguran yang menumpuk dapat melahirkan dampak sosiologis krusial yang mengancam stabilitas nasional. Apalagi bila banyak petualang politik yang memainkan berbagai masalah sosial sebagai kendaraan politiknya. Keberpihakannya kepada kesulitan dunia kerja hanya untuk kepentingan politiknya saja. Bukan murni, sejati, ikhlas untuk memperbaiki permasalahan pada titik intinya permasalahan. Dukungannya kepada kaum lemah hanya untuk pelipur lara dan mengajak bersama-sama dalam kelemahan. Bukan untuk menyadari permasalahan mendasar dan bangkit melakukan agenda-agenda perbaikan yang konstruktif.

Perlu penyebaran bentuk lapangan kerja. Pekerja Indonesia masih terkonsentrasi pada tenaga kerja produksi. Sementara profesi lain yang memiliki produktifitas tinggi dan tanggung jawab lebih berat masih sedikit. Seperti profesional, teknisi ahli, manajerial, dsb.

Perlu dibuat struktur industri strategis yang mampu membuat daya serap yang kuat dan lama. Sebuah industri yang terkonsentrasi dari hulu ke hilir dengan keunggulan produk yang tumbuh semakin kokoh. Lapangan kerja kita masih berkisar industri pendukung, temporer, dan tidak berkarakter.

Perlu pelatihan SDM untuk meningkatkan daya saing. Tingkat produktifitas pekerja di negara miskin masih 50 berbanding 1. Bila dibandingkan dengan negara maju maka 94 berbanding 1.

Perlu prioritas dalam penyelesaian masalah. Perselisihan industri yang berlarut-larut akan semakin menjauhkan dari kondisi aman dan stabil yang diperlukan untuk adanya perbaikan dan pertumbuhan.

Mari kita mulai dari diri kita. Anda, yang saat ini masih bekerja, tetaplah bekerja. Pertahankan terus lapangan kerja yang masih ada. Sesulit apapun dan seberat apapun. Dengan itu, kita lebih punya harapan untuk memperbaiki keadaan. Dukung setiap perusahaan yang masih bisa menyediakan lapangan kerja. Bersamanya kita buat industri-industri yang unggul.

Ingat kita punya beban moral untuk mengurangi angka pengangguran. Kita tidak bisa berpikir sendiri asal untuk kepentingan kita saja. Tapi bagaimana dengan mereka yang masih menganggur, mereka yang baru dan akan lulus dan sekolah. Mereka akan meminta pertanggungjawaban kita, bila kita tidak mampu membentuk iklim dunia kerja yang sehat dan tumbuh.

Ketika perusahaan yang ada bisa bertahan, maka ia akan membaik dan berpeluang mensejahterakan. Ketika industrinya membaik maka akan membuka peluang bisnis dan investasi. Sedikit-demi sedikit lapangan kerja tumbuh. Dan setahap demi setahap permasalahan selesai. Insya Allah, semuanya atas izin Allah.

 

Kedalaman ilmu dapat mempercepat proses adaptasi dan penguasaan pekerjaan yang dilaksanakan. (Tanri Abeng)

Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau lingkungan sekitar anda tetap hadir dalam suasana pertarungan. Perusahaan tempat anda bekerja berada dalam pertarungan bisnis yang kejam. Maka ketika bekerja, anda harus siap dalam semua pertarungan yang ada.

Pertarungan atau kompetisi hanya dibuat untuk jagoan atau orang yang memiliki kompetensi atau memiliki keahlian. Yang tidak memiliki keahlian, yang tidak memiliki kompetensi hanya akan dijadikan bulan-bulanan saja. Petarung akan datang dengan hebat dan semakin hebat. Sehingga diperlukan pondasi penopang kompetensi tadi, yakni ilmu, keterampilan, dan perilaku.

Sangat bodoh, bila bertarung/bekerja tapi anda tidak mengerti cara memenangkan pertarungan. Atau anda tidak mengerti keberhasilan pekerjaan yang diamanahkan. Ketika anda memulai pekerjaan sebagai penjahit, kuasai segala sesuatu hal berkaitan dengan ilmu menjahit. Kemudian tingkatkan terus kemampuan anda dan lengkapi dengan kemampuan-­kemampuan di sekitar pekerjaan itu. Misalnya cara mengatur pekerjaan, mencapai target, memotivasi orang, memperbaiki mesin, dsb. Semakin banyak ilmu yang dikuasai semakin mudah menyelesaikan amanah kerja kita.

Biarlah amanah kita kecil tapi ilmu kita jauh lebih luas dari itu. Biarlah amanah kita menangani 1 tim, tapi kita faham proses bisnis satu departemen atau satu perusahaan secara utuh. Tidak perlu merasa berlebihan, karena inilah modal pengembangan karier. Seiring dengan berjalannya waktu, pertarungan yang terus naik kelasnya akan melatih keterampilan kita. Anda akan lebih cerdas memakai berbagai alat untuk selesaikan masalah dan mencapai target.

Tapi yang terpenting, pertarungan hanya akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki mental juara. Perilaku atau akhlak kita akan menjamin semua prasyarat tadi menjadikan kemenangan. Terus tambah ilmu, berlatih dan bertarung. Anda harus menjadi pekerja ahli, jagoan ulung.

 

Menghadapi suatu masalah, anda bisa memunculkan kerja keras dan bersulit-sulit atau anda pun bisa memunculkan setumpuk alasan yang seolah-olah membolehkan kita gagal. Ketika anda memilih mengumpulkan alasan, kegagalan yang akan datang merupakan kesulitan dalam bentuk lain yang pasti akan anda hadapi.

Bahkan, sangat mungkin kesulitan itu akan lebih berat dan lebih berbahaya. Maka sejuta alasan yang coba kita tumpahkan itu, kelak tidak akan berarti apa-­apa lagi. Rasanya secanggih apa pun alasan itu tidak mampu mengurangi berat dan bahayanya masalah yang muncul selanjutnya.

Tapi ketika anda memilih untuk melalui jalan yang sulit dan berat untuk bersusah payah menyelesaikan masalah, maka anda mulai meniti tangga keberhasilan. Walaupun salah satu anak tangganya adalah kegagalan. Dan ketika keberhasilan itu kemudian muncul, maka kesulitan seberat apapun tidak berarti apa-apa. Bayangkan, ketika untuk mencapai suatu target produksi anda harus memutar otak, menambah jam kerja, bekerja ekstra, dsb. Kemudian anda berhasil dan bisa memenuhi waktu yang tepat untuk peluncuran produk baru dan mencapai prestasi penjualan.

Kesulitan yang semula dirasakan dengan berat seolah-olah hilang begitu saja. Bahkan menjadi bumbu untuk menggenapkan tanda kebanggaan atas prestasi kita. Mari kita renungkan, apa rasa sebuah kesulitan dan sebentuk alasan atas reaksi kita terhadap suatu masalah. Semuanya ternyata semu saja. Ketika realita kembali hadir beberapa waktu ke depan, maka keduanya menjadi tidak punya arti apa-apa.

Dimana ada kemauan disitu ada jalan, dimana ada kemalasan disitu ada alasan. Pilihan ada pada anda sendiri dan hasilnya sudah siap menanti.

 

 

« Halaman Sebelumnya